Jumat, 20 Juli 2012

Karakteristik Perkembangan Emosi Anak Usia Taman Kanak-Kanak


              Emosi pada masa awal kanak-kanak sangat kuat. Pada fase ini merupakan saat ketidakseimbangan, di mana anak mudah terbawa ledakan-ledakan emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan. Menurut Hurlock (1978) perkembangan emosi ini mencolok pada anak usia 2,5 sampai 3,5 tahun, dan 5,5 sampai 6,5 tahun.

A.           CIRI UTAMA REAKSI EMOSI PADA ANAK
Seperti telah diuraikan di atas bahwa perkembangan emosi dipengaruhi oleh kematangan dan belajar maka hal ini dapat menyebabkan adanya perbedaan antara reaksi emosi anak dan orang dewasa. Adapun karakteristik reaksi emosi anak adalah sebagai berikut. 
1.        Reaksi Emosi Anak Sangat kuat.
Anak akan memperlihatkan reaksi emosi yang sama kuatnya dalam menghadapi setiap peristiwa, baik yang sederhana sifatnya maupun yang berat. Bagi anak semua peristiwa adalah menarik dan menakjubkan. Tidak ada peristiwa yang dianggap sederhana oleh anak. Semua peristiwa memiliki nilai yang sangat berarti. Dalam hal kekuatan, makin bertambahnya usia anak, dan semakin bertambah matangnya emosi anak maka anak akan semakin terampil dalam memilah dan memilih kadar keterlibatan emosionalnya.

2.        Reaksi Emosi Sering Kali Muncul pada Setiap Peristiwa dengan Cara yang diinginkannya.
Kita sering melihat anak tiba-tiba menangis atau merajuk dengan sebab yang tidak jelas. Anak melakukan itu karena ia memang menginginkannya, sekalipun tidak ada pencetusnya, misalnya anak tiba-tiba menangis karena merasa bosan. Untuk anak yang lebih muda usianya, hal ini masih bisa ditolerir. Namun, bagi anak usia empat atau lima tahun hal ini tidak dapat diterima oleh lingkungannya. Semakin emosi anak berkembang menuju kematangannya, mereka akan belajar mengontrol diri dan memperlihatkan reaksi emosi dengan cara yang dapat diterima lingkungan.

3.        Reaksi Emosi Anak Mudah Berubah dari Satu Kondisi ke Kondisi Lainnya.
Bagi seorang anak sangat mungkin saat ini ia menangis dengan keras. Namun, ketika ibunya mengalihkan perhatiannya pada benda-benda yang disukainya, ia dapat langsung berhenti menangis dan melupakan kejadian yang baru saja membuatnya marah dan kecewa. Reaksi emosi anak mudah teralihkan dan mudah berganti dari satu kondisi ke kondisi yang lain.

4.        Reaksi Emosi Bersifat Individual
Reaksi emosi bersifat individual, artinya sekalipun peristiwa pencetus emosi adalah sama, namun reaksi setiap orang akan berbeda dalam menyikapinya. Hal ini disebabkan oleh adanya pengalaman yang diperoleh dari lingkungan setiap individu berbeda sehingga menyebabkan reaksi emosi yang diperlihatkan pun dapat berbeda-beda pula. Sebagai contoh, dalam satu peristiwa sangat mungkin terjadi dua orang anak kehilangan mainan kesayangannya, satu anak menyikapinya dengan marah dan menangis keras, merajuk dan sulit dibujuk dengan apa pun. Sementara anak yang lain hanya menunjukkan ekspresi wajah yang sedih, setelah itu ia dapat bermain kembali.

5.        Keadaan Emosi Anak dapat Dikenali Melalui Gejala Tingkah Laku yang Ditampilkan.
Pada dasarnya semua anak lebih mudah mengekspresikan emosinya melalui sikap dan perilaku, dibandingkan mengungkapkannya secara verbal. Hal ini juga tampak pada anak yang mengalami hambatan dalam mengekspresikan kehidupan emosinya secara terbuka. Mereka biasanya sering memperlihatkan gejala tingkah laku, antara lain melamun, tingkah laku gelisah, seperti mengisap jari, menggigit kuku, kesulitan bicara (stuttering), dan lain sebagainya. Jika kita menemukan gejala tersebut, dapat kita pahami bahwa anak sedang mengalami masalah emosional.

B.            BENTUK REAKSI EMOSI PADA ANAK
Pada umumnya, bentuk reaksi emosi yang dimiliki anak sama dengan orang dewasa. Perbedaannya hanya terletak pada penyebab tercetusnya reaksi emosi dan cara mengekspresikan. Bentuk reaksi emosi yang umum pada anak usia lahir hingga dua bulan, yaitu anak hanya mengenal rasa senang (bila kenyang, hangat, dan diayun) dan rasa tidak senang (bila sakit, dingin, lapar, basah) yang ditampilkan dalam reaksi emosi menangis.
Adapun beberapa bentuk-bentuk emosi umum terjadi pada awal masa kanak-kanak sebagaimana yang dikemukakan Hurlock adalah sebagai berikut.

1.             Amarah
Marah seringkali muncul sebagai reaksi terhadap frustasi, sakit hati, dan merasa terancam. Pada umumnya, frustasi atau keinginan yang tidak terpenuhi merupakan hal yang paling sering menimbulkan kemarahan pada tiap tingkat usia. Dibanding rasa takut, rasa marah lebih sering muncul pada masa kanak-kanak. Ini disebabkan rangsangan-rangsangan untuk marah lebih sering dialami anak ketimbang rangsangan yang menimbulkan rasa takut. Selain itu dalam tahun-tahun pertama, anak sering belajar dari pengalaman bahwa dengan marah keinginannya akan terpenuhi.
Secara umum hal-hal yang menimbulkan rasa marah adalah bila anak terhambat melakukan sesuatu. Hambatan bisa berasal dari dirinya sendiri, misalnya ketidakmampuan anak melakukan sesuatu. Hambatan itu dapat pula berasal dari orang lain misalnya larangan. Berbagai macam batasan terhadap gerak yang diinginkan atau direncanakan anak, serta kejengkelan yang menumpuk.
Bayi-bayi biasanya marah karena secara fisik ia merasa tidak nyaman, dihambat untuk bergerak, dimandikan atau dipakaikan baju. Kadang-kadang ketidakmampuan anak untuk menyatakan sesuatu secara verbal pada saat awal anak belajar bicara dan kurang mendapat perhatian juga bisa membuat ia marah. Penyebab marah pada anak prasekolah umumnya tidak jauh berbeda dengan penyebab marah pada bayi. Selain itu anak prasekolah akan bereaksi marah bila benda-benda atau mainan miliknya dipegang atau diambil anak lain. Bila ini terjadi biasanya mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk merebut kembali benda miliknya.
Menurut Hurlock reaksi marah umumnya bisa dibedakan menjadi dua kategori besar, yaitu:
a.         Marah yang impulsif biasanya disebut juga agresi. Marah jenis ini ditujukan langsung pada orang lain binatang atau objek, bisa dalam bentuk reaksi fisik, bisa pula verbal, bisa ringan, bisa berat atau intens. Amukan atau temper tantrum adalah hal yang biasa dijumpai pada anak-anak. Biasanya anak-anak juga tidak ragu-ragu untuk menyakiti orang atau anak lain dengan cara, seperti memukul, menggigit, meludah, menendang, mendorong, dan lain-lain. Di usia sekitar empat tahun kemarahan itu masih ditambah lagi dengan kata-kata yang kasar atau ejekan-ejekan.
b.        Marah yang terhambat adalah marah yang tidak dicetuskan karena dikendalikan atau ditahan. Biasanya anak-anak bereaksi menarik diri, melarikan diri dari anak atau orang lain, yang menyebabkan ia marah. Biasanya ia bersikap lesu, masa bodoh atau tidak berani. Karenanya anak yang marah dengan cara ini sering merasa sia-sia atau tak berguna. Inilah cara mereka untuk menerima frustasi dan mereka menganggap menahan marah adalah lebih baik daripada mengekspresikannya karena mereka terbebas dari risiko penolakan sosial.

2.             Takut
Reaksi takut pada bayi dan anak-anak berupa rasa tak berdaya. Hal ini tampak pada ekspresi wajah yang khas, tangisan yang merupakan permintaan tolong, mereka menyembunyikan muka dan sejauh mungkin menghindari objek atau orang yang ditakuti, atau bersembunyi di belakang orang atau kursi. Semakin meningkatnya usia, reaksi rasa takut berubah karena adanya tekanan sosial. Reaksi menangis tidak ada lagi walau ekspresi wajah yang khas masih tetap ada, dan biasanya mereka menghindar dari objek yang ditakuti.
Setiap periode mempunyai ciri ekspresi rasa takut. Reaksi takut sering diperlihatkan dengan gejala fisik, yaitu mata membelalak, menangis sembunyi atau memegang orang diam tidak bergerak.
Jeffrey Gray (1971) mengemukakan beberapa bentuk penyebab rasa takut pada anak dapat diakibatkan oleh adanya rangsangan berupa suara keras, pengalaman menghadapi tempat atau orang asing, tempat tinggi, kamar gelap, berada seorang diri, rasa sakit, atau karena interaksi sosial-terancam atau marah dengan orang lain.
Pada periode awal anak, rasa takut timbul disaat dirinya merasa terancam oleh benda-benda yang ditemuinya (misalnya pisau, mobil, dan sebagainya). Stranger anxiety di sini anak belum mengenal/mampu memahami bahwa bukan dirinya yang  terancam oleh benda tersebut. Reaksi yang ditampilkan adalah anak melakukan gerakan motorik, misalnya berlari, bersembunyi, memegang orang yang dikenalnya.
Pada periode akhir anak-anak, rasa takut timbul akibat fantasi yang dibentuk oleh anak itu sendiri yang menyebabkan harga dirinya terancam oleh lingkungannya (misal takut gagat, berbeda dengan orang lain, status, dan sebagainya). Keadaan ini disebabkan anak telah mengalami perkembangan kemampuan berpikir sehingga mampu membentuk fantasi dan menilai dirinya sendiri. Reaksi yang ditampilkan dapt secara langsung, misalnya berlari, sembunyi, menangis, ataupun marah. Reaksi ini dapat pula secara tidak langsung misalnya sakit perut, badan panas, dan sebagainya.
Berkenaan dengan rasa takut ini Hurlock (1991) mengemukakan adanya reaksi emosi yang berdekatan dengan reaksi takut. Yaitu shyness atau rasa malu, embarassment atau merasa kesulitan, khawatir, dan anxiety atau cemas. Adapun penjelasan masing-masing bagian dapat kita ikuti berikut ini.
a.              Shyness atau malu adalah reaksi takut yang ditandai dengan ”rasa segan” berjumpa dengan orang yang dianggap asing. Sejak usia enam bulan anak mulai mengalami kemantangan secara intelektual, keadaan ini menyebabkan mereka mulai mampu membedakan antara orang yang dikenalnya dan tidak dikenalnya, namun pada usia ini mereka belum matang untuk memahami bahwa orang yang tidak dikenalnya tidak mengancam dirinya. Reaksi yang ditampilkan adalah memalingkan muka atau memegang keras pada orang yang dikenalnya. Bila anak sudah mampu merangkak biasanya bersembunyi dan mengintip. Pada periode awal anak dan akhir anak, reaksi ini timbul bila mereka memiliki perasaan tidak mengenal perlakuan orang lain kepadanya. Perasaan ini timbul tidak terbatas pada orang yang tidak dikenalnya, tetapi juga yang dikenalnya (misalnya, bertemu dengan tamu baru, guru baru atau orang tuanya yang menonton ia menyanyi/menari, dan lain sebagainya). Reaksi ini timbul karena adanya peranan tidak pasti akan reaksi orang lain pada dirinya, takut orang lain mentertawakan dirinya.
b.             Embarassment (merasa sulit, tidak mampu atau malu melakukan sesuatu) merupakan reaksi takut akan penilaian orang lain pada dirinya. Timbulnya reaksi ini karena anak sudah mampu memahami harapan dan penilaian yang dapat diperoleh dari lingkungan sosial. Reaksi ini berhubungan dengan kesadaran akan dirinya yang terancam. Perasaan ini belum dimiliki oleh anak-anak di bawah usia lima sampai enam tahun karena itu pada usia ini reaksi  embarassment belum muncul.
c.              Khawatir timbul disebabkan oleh rasa takut yang dibentuk oleh pikiran anak sendiri, biasanya mengenai hal-hal khusus, misalnya takut dihukum orang tua, takut sekolah, takut terlambat, takut teman sebaya, takut dimusuhi, takut tidak populer, dan lain sebagainya.
d.             Anxiety atau cemas, merupakan perasaan takut sesuatu yang tidak jelas dan dirasakan oleh anak sendiri karena sifatnya subjektif. Perasaan cemas dapat membuat anak terhambat perkembangannya karena dapat mengakibatkan ia tidak berani berbuat sesuatu, tidak mau bertemu orang lain, tidak mau ke sekolah, dan lain sebagainya. Kadangkala mereka pun tidak dapat menggambarkan secara jelas apa yang membuatnya takut. Perasaan cemas ini kadang ditandai dengan perubahan fisiologis, seperti berkeringat, muka pucat, dan tubuh tegang.

3.             Cemburu
Cemburu adalah reaksi normal terhadap hilangnya kasih sayang, baik kehilangan secara nyata terjadi maupun yang hanya sekadar dugaan. Perasaan cemburu muncul karena anak takut kehilangan atau merasa tersaingi dalam memperoleh perhatian dan kasih sayang dari orang yang dicintainya. Cemburu adalah bentul lain dari marah yuang menimbulkan rasa kesal atau benci terhadap orang yang disayang maupun terhadap saingannya. Rasa cemburu biasanya bercampur dengan marah dan takut. Dengan kemarahan dan rasa takutnya ini, anak yang cemburu biasanya merasa tidak aman.
Reaksi cemburu dapat langsung ataupun ditekan. Reaksi yang langsung dapat berwujud perlawanan agresif, seperti menggigit, menendang, memukul, mendorong, meninju dan mencakar, sedangkan cemburu yang tidak langsung bersifat lebih halus daripada reaksi langsung sehingga lebih sukar untuk dikenali. Menurut Hurlock (1991) reaksi ini meliputi pengunduran diri ke arah bentuk perilaku yang infantil, seperti mengompol, mengisap jempol, makan-makanan yang aneh-aneh, kenakalan yang umum, perilaku merusak, menunjukkan kasih sayang atau sikap membantu yang tidak diminta, melampiaskan perasaan kepada binatang atau mainan.
Ada tiga penyebab utama yang menimbulkan kecemburuan pada masa kanak-kanak, yaitu sebagai berikut:
a.              Cemburu yang terjadi di masa kanak-kanak biasanya berasal dari kondisi rumah. Misalnya kehadiran adik baru yang menyita lebih bayak waktu sang ibu sehingga si kakak merasa kurang mendapat perhatian. Dalam situasi ini biasanya si kakak menjadi kesal, sakit hati serta benci pada ibu dan si adik.
b.             Situasi sosial di sekolah juga bisa menjadi penyebab timbulnya rasa cemburu pada anak. Rasa cemburu yang berasal dari rumah sering dibawa pula ke sekolah. Dalam hal ini anak biasanya bersikap posesif anak akan marah, kesal atau sakit hati, bila guru atau temannya tersebut memberi perhatian pada anak lain.
c.              Cemburu pada anak-anak juga bisa timbul karena anak merasa saudaranya atau anak lain memiliki barang atau mainan yang lebih bagus dari miliknya.

4.             Ingin Tahu
Rasa ingin tahu yang besar merupakan perilaku khas anak prasekolah. Bagi mereka kehidupan ini sangat ajaib dan menarik untuk dieksplorasi. Bagi anak usia dini tidak ada perbedaan antara ulat bulu dengan teleskop jarak jauh. Semuanya menarik dan mereka ingin mengetahui lebih dalam benda-benda tersebut. Rasa ingin tahu melibatkan emosi kegembiraan dalam diri anak, terutama jika mereka dihadapkan pada aktivitas atau benda-benda yang baru. Rasa ingin tahu ini sangat efektif dalam membantu proses pembelajaran.

5.             Iri Hati
Iri hati muncul pada saat anak merasa ia tidak memperoleh perhatian yang diharapkan sebagaimana yang diperoleh teman atau kakaknya. Perasaan irihati muncul lebih bersifat emosi negatif, ia timbul karena anak kurang memiliki rasa aman dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Biasanya hal ini timbul akibat dari perlakuan orang tua yang suka membandingkan dia dengan anak lain.

6.             Senang/Gembira
Gembira adalah emosi yang menyenangkan. Rasa senang atau gembira ini adalah reaksi emosi yang ditimbulkan bila anak mendapatkan apa yang diinginkan, kondisi yang sesuai dengan harapannya. Rasa gembira bisa berbentuk kepuasan dalam hati, bisa pula lebih ekspresif, yaitu tersenyum, tertawa, sampai tertawa terbahak-bahak. Pada saat ini terjadilah relaksasi tubuh secara menyeluruh. Anak-anak mengekspresikan rasa gembira dengan cara dan intensitas yang bervariasi. Makin bertambah usia anak, makin bervariasi pula hal-hal yang bisa menimbulkan kegembiraannya. Pada anak balita kegembiraan biasanya terlihat saat ia bermain dengan anak-anak seusianya. Pada anak balita kegembiraaan biasanya terlihat saat ia bermain dengan anak-anak seusianya, terutama saat ia bisa menunjukkan kemampuan yang melebihi teman-temannya. Dengan bertambahnya usia, anak pun akan belajar mengekspresikan kegembiraannya dalam cara-cara yang lebih diterima oleh lingkungan. Anak akan tahu kapan dan dimana ia boleh tertawa dengan bebas atau tahu bahwa mentertawakan orang itu tidak baik.

7.             Sedih
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, perasaan sedih merupakan emosi negatif yang kemunculannya didorong oleh perasaan kehilangan atau ditinggalkan terutama oleh orang yang disayanginya. Perasaan sedih juga muncul karena anak merasa kecewa atas kegagalan atau ketidakberhasilan yang menimpanya.

8.             Kasih Sayang
Kasih sayang merupakan emosi positif yang sangat penting keberadaannya, ia menjadi dasar berbagai macam perilaku emosi dan kepribadian yang sehat, kekurangan kasih sayang pada awal masa kanak-kanak dapat berdampak buruk terhadap pembentukan kepribadiannya di masa depan. Adanya perasaan kasih sayang serta kepercayaan bahwa dirinya disayangi dapat menumbuhkan rasa aman pada anak, meningkatkan kepercayaan diri, kemauan untuk  membantu dan bersikap santun terhadap orang lain, tumbuhnya sikap rela berkorban dan kesediaan untuk mendahulukan orang lain ketimbang mendahulukan dirinya sendiri.

Followers

Follow Me on Twitter

pengunjung

free counters
 

Catatan Penaku | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform